DAILY NOTES 2


HOW I DEAL WITH MYSELF
Written by Aksarasa
Hai para pembaca, salam hangat dari human untuk kalian semua ^^
Maafkan karena baru bisa ngepost tulisan lagi hari ini. Aduh human udah banyak hutang banget ya ke kalian L ah so sad. Tapi InsyaaAlloh human bakal nyicil hutang hutang itu biar bisa cepet lunas ya :D
Okay, pada tulisan kali ini human mau berbagi tentang bagaimana human bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dalam segala hal entah itu dengan sifat kekanak kanakan yang tiba tiba muncul pada saat yang tidak tepat atau misalkan merasa kecewa karena ada keinginan yang belum bisa direalisasikan. Hal hal itu akan human bagikan ditulisan kali ini.
Hmm, dimulai dari poin apa ya? Loh, human tiba tiba bingung :D okay kita mulai dari jaman masuk SMA aja ya.
Pada pertengahan 2012, semua siswa kelas 9 disekolah human sibuk mencari referensi SMA dimana mereka mau melanjutkan sekolah dan rasanya cuman human yang menyikapi masa ini dengan sangat biasa saja. Kalian mau tau apa alasannya? Karena saat itu, keuangan keluarga human sangat tidak memungkinkan untuk dipakai melanjutkan sekolah ke SMA yang human inginkan, maka dari itu human sudah “pasrah” ketika bapak bilang kalau human harus melanjutkan sekolah disalah satu MA swasta dekat rumah, status sekolahnya baru dan human menjadi angkatan kedua dari sekolah itu ketika lulus.
Waktu itu, umur human masih 15 tahun. Masa dimana masih menjunjung ego yang tinggi, sebenarnya sekarang juga masih tapi tidak terlalu dan bisa dikendalikan. Okay, jadi dulu human sempat tidak terima dengan keputusan bapak. Ya bayangkan, teman satu “geng” malah bisa melanjutkan sekolah ke SMA yang mereka inginkan. Human berpikir kenapa bapak tidak bisa mengusahakan hal yang sama buat anaknya sendiri, terlebih human adalah anak yang cukup berprestasi disekolah. (bukan riya ya cuman ngasih tau tolong jangan dihujat :D)
Lalu seiring berjalannya waktu, human mulai bisa menerima kenyataan yang ada. Dari hari ke hari human semakin berpikir dan lebih bersyukur dengan apa yang sudah ada lalu memaksimalkannya. Lagi pula diluar sana masih banyak anak yang bahkan ingin sekolah tapi mereka tidak bisa mendapatkannya.
Selama sekolah human tetap berprestasi seperti biasanya, malah selalu dapat ranking 1 selama 6 semester berturut turut, alhamdulillah. Percaya deh, ketika kamu mensyukuri semua yang Alloh dah kasih maka Alloh pun bakal ngasih nikmat yang lebih dan lebih lagi. Kenapa human menuliskan bagian ini? Supaya kamu tau walaupun kamu tidak bisa mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginan bukan berarti kamu bisa dengan seenaknya saja tidak memaksimalkan apa yang sudah kamu dapat. Sampai sini paham? Okay lanjut, selama sekolah human aktif di OSIS dan Paskibra.
Jujur, ketika MTs (SMP) human sama sekali tidak aktif berorganisasi. Mau tau kenapa? Karena kondisi kesehatan saat itu tidak memungkinkan human untuk ikut hal-hal yang bisa menguras energi lebih banyak. Human punya riwayat penyakit yang cukup “ribet” sampai ke rumah sakit saja sudah seperti pergi tamasya. Sebenarnya saat pertama masuk sekolah SMA pun, human sedang dalam keadaan sakit, sampai tidak bisa ikut MOS (Masa Orientasi Siswa) tapi seiring berjalannya waktu ketika human merasa kondisi kesehatan human membaik, maka human memutuskan untuk ikut berorganisasi di sekolah karena rasanya sayang sekali jika sampai tingkat SMA human belum mendapatkan ilmu dalam berorganisasi.
Di OSIS, jabatan pertama human adalah sebagai anggota seksi bidang bela negara kalau tidak salah nah setelah itu, human menjabat sebagai bendahara lalu naik jabatan  menjadi ketua OSIS karena saat itu ketua OSIS yang bersangkutan tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Maka dari itu, teman-teman OSIS yang lain mengadakan “rapat darurat” beserta pembina OSIS membahas mengenai pemindahan jabatan ini. Selama menjabat di OSIS banyak sekali tantangan yang mesti human hadapi, rasanya berat sekali waktu itu menghadapi anak-anak lain yang sangat apatis terhadap kinerja kami di OSIS tapi alhamdulilllah human mendapat teman-teman yang bisa saling menguatkan ketika tantangan-tantangan itu berdatangan sehingga human dan anggota OSIS yang lain bisa melewatinya dengan baik sampai masa jabatan kami berakhir.
Pertengahan 2015, human merasa mengulang kembali masa 3 tahun yang lalu. Masa dimana human harus menentukan harus lanjut kemana setelah selesai sekolah. Tentu saja human ingin melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi dengan jurusan yang sudah human impikan sejak masih duduk dikelas 11, tapi lagi-lagi human tidak tega jika harus bilang sama bapak karena jawaban bapak pasti akan sama seperti 3 tahun yang lalu “Uangnya darimana?” berhenti pada pertanyaan itu. Tapi kali ini human bertekad, human mencari beasiswa untuk kuliah dan saat itu human ikut SBMPTN dengan jalur bidikmisi, human saat itu tidak sempat ikut SNMPTN karena telat mengurus persyaratan dengan segala keterbatasan yang ada, dari mulai pihak sekolah yang kurang merespon dan lain sebagainya, tapi human tidak menyerah dan tetap bertekad ikut SBMPTN bagaimanapun hasilnya. Hasilnya human tidak lolos di SBMPTN tapi human tidak berhenti sampai disitu, human ikut SPAN-PTKIN, jalur ini sama seperti SNMPTN yaitu memakai nilai raport hanya saja ini berlaku untuk perguruan tinggi islam negeri. Human saat itu memilih kampus islam negeri yang ada di Bandung dan juga di Yogyakarta, entah kenapa bisa memilih Yogjakarta saat itu mungkin karena human cinta dengan budaya yang ada disana walaupun hanya melihatnya lewat tv dan buku.
Alhamdulillah, saat itu human lolos di kampus islam negeri yang ada di Bandung dengan jurusan yang persis seperti apa yang human harapkan. Tapi, ujian tidak berhenti sampai disitu karena human mengikuti jalur ini tanpa beasiswa maka lagi-lagi yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan biayanya, human sudah menjelaskan pada bapak bahwa biaya kuliah dikampus ini tidak semahal biaya kuliah dikampus lain dan human akan berusaha supaya bisa mendapatkan beasiswa ditahun kedua kuliah. Lalu jawaban bapak tetap pada kata “tidak”. Kalian mau tau bagaimana perasaan human saat itu? Sedih, kecewa, marah dan tiba tiba ingin menyalahkan segala hal. Human sudah berusaha sampai pada tahap ini, berusaha sendirian dengan hanya meminta pertolongan pada Alloh supaya bisa dikuatkan lalu timbal baliknya selalu bertentangan dengan keinginan. Astagfirullah.
Setelah perundingan yang cukup alot antara human dan bapak akhirnya di dapat hasil bahwa jika human tetap ingin kuliah itu boleh saja hanya human harus kuliah dikampus yang ada di Cimahi. Disana biayanya lebih terjangkau, bisa pulang pergi tidak perlu kost dan memikirkan uang makan bulanan dan lain sebagainya. Lalu human sepakat dengan keputusan bapak karena jurusan yang akan human ambil pun memang ada dalam list dan hal itu tidak menjadi masalah.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun dan alhamdulillah akhirnya human bisa mendapatkan beasiswa ditahun ketiga kuliah setelah dua kali sebelumnya gagal. Percaya deh teman-teman, pertolongan Alloh itu selalu ada bagi hambaNya yang benar-benar meminta dan mau berusaha. Sekali lagi, pesannya adalah maksimalkan apa yang kamu punya, apa yang kamu dapatkan meski itu bukan yang kamu inginkan, bisa jadi itu adalah cara Alloh untuk memberikanmu nikmat yang lebih baik dari yang sebelumnya kamu inginkan karena Alloh lebih tau apa yang kamu butuhkan. Jadi kalian harus bisa berpikir positif dan selalu memandang segala hal dalam berbagai sudut tidak hanya fokus pada satu titik saja.

Thank you for reading ...


DAILY NOTES 1


PASSANGER
Written by Aksarasa
Maaf sebelumnya ya teman-teman karena human sampai saat ini belum bisa memposting bab baru dari Jingga dan Biru. Nah sebagai gantinya, human akan ngasih tulisan yang lain nih. Isi tulisan ini berdasarkan pengalaman human sendiri ketika pakai angkutan kota kalau mau pergi kemana-mana, entah itu ke kampus, ke pasar, ke puskesmas, kemana-mana pokoknya.
Oh iya, perlu digaris bawahi disini human enggak bilang SEMUA angkutan kota loh ya, tapi beberapa oknum saja yang mungkin lagi khilaf atau ya enggak tahulah yang kebetulan human temui.
Nah, inti pembahasan dari tulisan ini sebenarnya adalah tentang keresahan human sendiri. Gini ya, sebagai 'angkoters', human berharap banget nih kalau transportasi umum yang banyak orang gunakan ini bisa memfasilitasi penumpangnya dengan baik. Maksudnya gimana?
Kayak gini, seperti yang kita tahu kalau beberapa angkutan kota (angkot) itu sering ngetem lama banget, sampai kadang lupa waktu. Hallo, ngetem bolehlah, tapi sopirnya juga harus menyadari kalau beberapa penumpangnya itu mungkin aja ada yang punya kepentingan mendesak, darurat, 10-15 menit it's okay lah karena penumpangnya juga tahu kalau sopir nih butuh penumpang lebih karena mereka butuh pendapatan yang lebih entah itu untuk setor ke yang punya angkot atau hal lainnya. Tapi masalahnya adalah ketika sopir nih lupa waktu yang pada akhirnya jadi tidak memprioritaskan penumpangnya. Padahal kita nih sama sama butuh loh. So, apa salahnya buat saling mengerti? Yang bikin human jengkel nih, beberapa sopir malah suka nyolot dan bilang gini "Kalau gak mau nunggu lama, ya turun aja". Whaaaattt gitu? Bisa kan bilangnya enggak usah ngegas gitu loh.
Itu yang pertama, yang kedua adalah beberapa angkot suka memaksakan penumpangnya buat duduk berdesakan melebihi kapasitas yang bisa ditampung si angkot. Kita tuh didalam udah kayak ikan pindang yang ditumpuk rasanya, sopir sih enak didepan enggak ngerasain. Kadang kalau udah keterlaluan sampai rasanya susah ngambil nafas, human suka teriak dari belakang "Mang, dah penuh kali, udah gak muat begini juga". Kesel human tuh, dan sopirnya ngejawab gini "Bisa bisa, itu sebelah kanan digeser". Palamu digeser, dalam hati ngomong sendiri.
Poin ketiga adalah human udah paling jengkel kalau tiba-tiba diturunin ditengah jalan, WTH? Dalam keadaan udah sore banget, hujan gerimis, lapar, banyak tugas, pusing kepala, ongkos segitu-gitunya. Pokoknya merasa terdzolimi bangetlah. Udah di dzolimi kayak gitu, sopirnya malah minta ongkos dengan tidak merasa berdosa. Hallo, nyampe tujuan aja kagak gitu.
Poin keempat adalah ketika beberapa angkot nyetel musik kenceng banget dengan posisi speakernya tuh dibelakang, udah gak ngerti lagi. Terus musik yang disetel tuh unfaedah banget guys, malah mengganggu jatohnya. Kalau sopirnya mau menikmati musik sendiri ya tarohlah speaker kecil didepan dia sendiri. Kalau posisinya dibalik nih ya, ada penumpang yang nyetel musik kenceng kenceng sedangkan dia pengen ketenangan. Nah loh gimana coba? Kita aja penumpang kalau mau dengerin musik ya pake headset sendiri biar gak ganggu orang lain. Ini? Sebagai catatan aja ya, beberapa orang tuh lelah apalagi pas jam pulang kerja, mereka tuh pengen istirahat sepanjang jalan. Human tuh pengen tenang gitu sepanjang jalan pulang setelah capek ngerjain banyak hal. Apa salahnya dengan itu? Apa salahnya dengan berhenti menjadi individu yang egois ketika kalian masih butuh orang lain? Kita bangun simbiosis mutualisme gitu, penumpang juga bayar kok. Jadi biarkan kami mendapat hak untuk difasilitasi secara baik.
FYI, ini kejadian sekitar 2 minggu yang lalu. Waktu itu, ada bapak paruh baya yang naik angkotnya sama kayak human. Keadaannya diangkot, sopirnya nyetel musik kenceng banget dan bapak ini tuh negur dengan baik "Dek, kecilin volume musiknya". Gak salah dong? Nah, sopirnya ini malah menghiraukan omongan dari si bapak. Tahu gak si bapak ngapain habis itu? Dia langsung turun saat itu juga. Terus sopirnya nih malah ngomel-ngomel pas si bapak turun dari angkot, kata-katanya sangat tidak patut buat ditiru pokoknya.
Oh ya, human juga pernah negur kayak gitu ke sopir angkot. Waktu itu kejadiannya pagi pas mau berangkat ke kampus, angkot dalam keadaan ngetem dan sopirnya nyetel musik kenceng banget. Human posisinya masih sendiri diangkot tuh sambil baca buku. Lama-lama human ngerasa ke ganggu dan human memberanikan diri negur sopirnya "Mang, bisa kecilin volume musiknya sedikit?", terus sopirnya mengiyakan. Eh pas penumpang udah banyak dia setel lagi musiknya. Pas turun dari angkot mau ngasih uang ongkos, wajah sopirnya masam banget. Dah bodo amat pikirku.

Nah gitu cerita human guys, ada yang punya pengalaman yang sama?


PUISI 5


OASIS

Written by Aksarasa

Ia bagai oasis di tengah gurun
Menyejukkan gersangnya dahaga
Menemani setiap langkah impian
Mewujudkan segala asa yang ada

Ia bagai pelita dimalam hari
Menyinari sudut setiap ruang
Membangunkan semangat diri
Berjalan bersama untuk menang

Ia yang rela tanpa pamrih
Ia yang rela tanpa letih
Ia sang pembangkit cita
Pahlawan tanpa tanda jasa