CERITA PENDEK_HORROR

NONI BELANDA

Written by Aksarasa
Namaku Anjani Dwi Lestari siswi kelas 11 di salah satu SMA negeri favorit di Bandung. Oh iya, hari ini adalah hari pertama ku masuk sekolah karena aku adalah murid pindahan dari Jakarta. Aku berpikir rasanya akan sulit untuk berbaur dengan lingkungan yang baru. Tapi tidak seperti yang dibayangkan, ternyata aku cepat mendapat teman. Lalu, aku pun memutuskan untuk  masuk menjadi salah satu jajaran pengurus OSIS di sekolah ini, karena rasanya ada yang kurang jika aku  tidak mengikuti organisasi karena kebiasaan di sekolah yang lama.
“Anjani, kita kumpul di ruang OSIS dulu abis jam pelajaran terakhir ya.”
“Oh iya sip.”
Kenalkan teman sebangku ku, Anita Adriani. Dia banyak bercerita padaku tentang sekolah ini. Kalian tahu? Sekolah baru ku ini merupakan bangunan kuno yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dan katanya dulu pernah terjadi kasus bunuh diri. Konon terdapat tiga jendela di bangunan SMA ini yang selalu terbuka. Banyak yang percaya bila memutari bangunan kuno ini sebanyak 3 kali, kamu akan melihat hantu wanita Belanda di salahsatu jendela tersebut.
Mungkin hari itu adalah hari yang sial bagiku karena mengalami hal diluar nalar seperti ini.  Pernah waktu itu aku pulang sendiri karena Anita pulang duluan, ada urusan keluarga katanya. Sementara aku harus pergi ke perpustakaan untuk mengejar ketertinggalan ku dalam beberapa materi pelajaran. Saat itu aku melewati tangga dekat aula, seketika saja bulu kuduk ku merinding dan tak lama setelah itu aku mendengar suara tangisan padahal aku bisa memastikan tidak ada orang disana.
Keesokan harinya aku bercerita pada Anita, dia bilang kalau dia juga pernah mengalaminya. Semenjak kejadian itu aku seperti mengalami paranoid jika harus pulang sendiri apalagi melewati tangga dekat aula.
Hari itu, kami selesai kumpul OSIS untuk membahas mengenai acara PENSI yang sebentar lagi akan diadakan di sekolah. Dan sekarang sudah lewat jam 5 sore, aku teringat ucapan Anita. Katanya setiap  pulang  dari sekolah lewat dari jam 5 sore, aura di sekolah berubah menjadi sangat mencekam. Benar kata Anita, waktu aku pulang sendiri hari itu suasananya juga seperti ini.
”Nit, sekolahnya emang kerasa banget ngeri ya kalau jam segini.”
“Iya, tapi tenang aja karena ada aku disini. Kamu enggak sendiri.”
“Ah kamu, paling kalau ada apa-apa pasti lari kocar kacir.”
“Kita lihat aja, siapa yang bakal duluan lari kalau ‘dia’ muncul.”
“Ssstt, jangan ngomong sembarangan. Aku enggak mau kejadian kayak waktu itu lagi pas pulang sendirian.”
Aku sempat gemetaran ketika melewati area tangga dekat aula karena aku merasa ada seseorang disana yang memperhatikan kami. Bahkan saking paniknya aku langsung lari meninggalkan Anita.
Sesampainya diluar gerbang sekolah nafas ku seperti mau habis, menyusul Anita di belakang ku.
“Ah kamu parah nih, masa ninggalin aku.”
“Maafin aku Nit. Aku takut banget terus tadi aku ngerasa kalau ada yang merhatiin kita.”
Hari itu seperti jadi hari yang begitu melelahkan bagiku karena alasan itulah setelah  kumpul OSIS aku selalu meminta untuk pulang bareng dengan teman-teman yang lain, selain dengan Anita. Karena aku takut mungkin dia akan balas dendam meninggalkan ku sendiri di tangga dekat aula itu.
Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba teman ku Toni membicarakan hal yang sama sekali tidak ingin aku dengar.
“Eh kalian udah denger kan kalau hantu itu katanya Nancy wanita Belanda.”
“Iya. Aku malah pernah denger dari temenku, waktu malam hari di sekolah kita ini juga sering kedengeran suara denting piano musik klasik dari ruangan musik, padahal di ruangan itu enggak ada orang.” Timpa Reza.
“Ah makin ngeri aja nih, sekolah kita emang bener-bener horror.” Sahut teman ku yang lain.
Setelah mendengar cerita itu, aku menguatkan hatiku untuk berjalan sampai keluar gerbang sekolah.
“Anjani, katanya kamu udah di sapa sama ‘dia’ waktu lewat tangga deket aula.” Tanya toni.
“Aku enggak mau ngebahas itu lagi.”
“Haha, iya deh maaf.”
“Eh gimana kalau kita coba keliling bangunan ini 3x siapa tahu ‘dia’ muncul di jendela yang suka kebuka itu.” Usul Reza.
“Emang kamu berani?” Tanya Anita.
“Ya iyalah makanya aku ngajak kalian, besok sore gimana?”
Hayu aja.” Jawab teman-teman yang lain kecuali aku.
“Kamu beneran enggak mau ikut?” Tanya Toni memastikan.
“Enggak, makasih.”
Keesokan harinya, bel mata pelajaran terakhir berbunyi.
“Kamu jadi mau lihat ‘dia’ lagi?” Tanya ku pada Anita.
“Jadi dong.”
“Wah kamu nih bener-bener enggak kapok.”
“Setelah dipikir-pikir, aku harus lihat wujud ‘dia’ sekali aja sebelum aku lulus.”
“Terserah kamu. Kalau gitu aku pulang duluan bareng yang lain ya, dah.”
Hari berikutnya Anita bercerita padaku kalau dia dan teman-teman yang lain tidak berhasil menemui ‘maskot’ sekolah ini padahal mereka sudah berkeliling bangunan sebanyak 3x dan meneriaki namanya. “Yang sabar nit, mungkin ‘dia’ emang belum mau ketemu kamu.” Aku pun malah mencandai Anita.
Tinggal menghitung hari menuju acara PENSI. Banyak anak OSIS yang bergadang di sekolah bahkan ada yang sampai menginap dan sering merasakan hal-hal aneh. Walaupun ada pembina yang menemani dan juga penjaga sekolah yang bertindak sebagai ‘pawang’ bagi ‘dia’, rasanya kami tetap merasa ngeri apalagi aku yang memang penakut.
Dan hari itu pun datang, aku sepertinya sedang ‘beruntung’ karena bisa bertemu dengan ‘dia’ padahal teman-teman ku yang sudah melakukan cara-cara agar bertemu ‘dia’ malah tidak bisa.
Saat itu aku ingin ke kamar mandi dan tidak di temani siapa pun. Saat berjalan tiba-tiba langkah ku terhenti, di ujung lorong aku melihat sesosok wanita dengan gaun panjang dengan model seperti gaun wanita Eropa jaman dulu. Separuh wajahnya rusak dan gaunnya ada noda seperti darah. Seketika itu juga aku berteriak dan tidak ingat apa-apa lagi.
Saat bangun, teman-teman ku bilang kalau semalam aku sudah tergeletak di depan kamar mandi perempuan. Katanya ketika ada acara sekolah seperti ini, penjaga sekolah kami bisa memindahkan ‘dia’ ke tempat lain untuk sementara waktu dengan memberikan sesajen karena aula sekolah akan di pakai dan ternyata tempat kepindahannya itu dekat dengan kamar mandi perempuan.
Tidak terasa acara PENSI pun datang. Banyak hal yang aku pelajari di sekolah baru ini, bukan hanya tentang pelajaran tapi juga hal-hal yang terjadi di luar nalar, sampai mengalami hal-hal horror yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi hal ini menjadi pengalaman bagiku dan aku pun semakin menyadari kalau ‘mereka’ memang ada di sekitar kita, mungkin mereka sedang bersembunyi atau hanya sekedar menyapa lewat suara atau bahkan mungkin memutuskan untuk muncul di hadapan kita tanpa diketahui.


-TAMAT-

0 comments:

Post a Comment