CERITA PENDEK_ROMANCE


SENJA YANG MENANGIS

Written by Aksarasa
Dimulai dari sejak SMA, aku senang sekali mengabadikan setiap moment dalam buku kecil yang sering aku bawa kemana-mana. Didalam buku itu ada sudut dari diriku yang tidak orang-orang ketahui, perasaan yang tak sempat tersampaikan misalnya.
Mei  2014.
Hari ini aku pergi ke toko buku, mencari ketenangan dengan tenggelam diantara cerita-cerita yang ku selami. Saat itu, buku yang ku beli adalah karya terbaru dari salah satu penulis favoritku. Aku lebih senang bepergian sendiri, bukan karena tidak punya teman tapi temanku pasti punya saja alasan jika ku ajak pergi ke toko buku.
Setelah berjalan keluar beberapa meter dari toko buku, tiba-tiba saja hujan mengguyur bumi dengan derasnya. “Ah, enggak bawa payung lagi”. Lalu aku memutuskan untuk mampir ke kafe dekat situ, numpang berteduh sambil memesan secangkir cokelat panas. Hujannya cukup deras, lalu ku putuskan untuk membaca buku yang ku beli tadi disini.
Setengah jam berlalu, ada yang menggeser bangku tepat disebelahku. Kebetulan posisi dudukku ini tepat di depan jendela besar yang menghadap langsung keluar.
“Hujannya deras ya?”
Dia bicara pada siapa pikirku. Tapi tak ada orang lain lagi di tempat duduk ini.
“Aku nanya sama kamu, kok enggak dijawab?”
“Ah, iya”. Jawabku sekenanya.
“Hmm, kamu suka baca buku itu juga?”
“Iya, ini seri ke-empatnya. Kamu tahu juga?”
“Iya, aku juga suka buku-bukunya.”
Lalu tanpa sadar kami mengobrol panjang lebar tentang tiap seri dari buku itu, menceritakan bab mana yang paling kami sukai, dan mengapa bisa mengagumi karya penulis yang sama. Diakhir percakapan, saat masing-masing dari kami sudah tak punya pembahasan, ia bilang, “Namaku Reza, panggil saja Za”. Ah iya, karena keasyikan ngobrol bahkan kami belum tahu nama satu sama lain.
“Aku Delisha”.
“Namamu panjang sekali De-li-sha”. Ia mengulang namaku sambil mengejanya per suku kata. “Boleh ku panggil kamu ‘Sha’ saja”.
“Kenapa?” jawabku heran.
“Sudah ku bilang namamu terlalu panjang untuk diucapkan”.
“Jadi?”
“Jadi, biar ku berikan nama yang baru untukmu. Nama panggilanmu sekarang ‘Sha’ biar sama dengan ku”.
Lalu aku tertawa mendengar jawabannya itu, “Apanya yang sama? Za dengan Sha?”
“Ya pokoknya anggap saja sama”.
Tidak terasa, aku sudah 2 jam berada di kafe itu bersama dengan makhluk yang entah datangnya darimana, lalu memberiku nama baru.
“Hujannya sudah reda. Aku harus cepat pulang”.
“Biar ku antar”.
“Kamu mau pulang kemana? Apa kita satu arah?”
“Aku pulang ke Neptunus”
“Haha, tapi aku tidak pulang ke Neptunus”.
“Enggak apa-apa, aku bisa mengantarmu dulu. Lalu pulang ke Neptunus”.
“Enggak apa-apa Za, aku bisa sendiri”. Kedengarannya memang garing, tapi aku suka candaannya, caranya bicara, dan terlebih lagi caranya tersenyum saat menatapku.
“Baiklah kalau begitu, nanti waktu kita ketemu lagi kamu harus traktir aku minum cokelat panas ya”.
“Di Neptunus?”
“Tentu saja disini”.
“Okay”.
Aku pun pamit saat itu, dan baru menyadari mengapa aku menjawab iya saat dia minta ditraktir cokelat panas di kafe itu, memangnya kita akan bertemu lagi? Pikirku dalam hati.
Keesokan harinya di sekolah.
“Pagiiiii, Delisha sayang”.
“Apa?” Jawabku ketus.
“Maaf, kemarin aku beneran enggak bisa nemenin kamu ke toko buku”.
“Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi maksudmu?”
“So sorry”. Jawabnya sambil cemberut.
Aku sama sekali tidak bisa marah pada sahabat ku yang satu ini, namanya Rena. Hobi dan kesenangan kami memang berbeda, menurutku dia anaknya agak ‘heboh’ tapi entah mengapa kami bisa menjadi sedekat ini sejak masih SMP.
“Re, kemarin aku ketemu makhluk aneh”.
“Alien maksudmu?”
“Bukan. Dia manusia”.
“Coba cerita”.
Aku menceritakan semuanya pada Rena, dari A sampai Z. Dari awal sampai selesai maksudnya.
“Kok bisa ya?”
“Entahlah”.
“Jangan-jangan emang bakal ketemu lagi, kalau kalian sampai ketemu lagi nanti berarti itu takdir”.
Sepulang sekolah, aku masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Rena. “Hmm takdir ya?” bisikku dalam hati.
Sebulan kemudian.
Hari ini aku pergi ke taman kota, makan es krim sendirian sambil melihat orang-orang bercengkrama. Lalu aku menyadari, bahwa aku tidak lupa dengan Za. Sosok laki-laki yang mengenakan kemeja warna biru yang digulung tangannya, celana jeans, sepatu converse. Lalu jam tangan di tangan kirinya dan tak lupa kacamata itu. Tapi sejak saat itu kami tidak bertemu lagi, mungkin karena aku tidak pernah lagi pergi ke kafe itu dan entah ada dorongan darimana kali ini aku memutuskan untuk pergi kesana. Apa yang sebenarnya aku cari? Apa benar aku ingin bertemu dengan makhluk aneh dari Neptunus itu?
Tapi ternyata dia memang ada disana, tepat ditempat duduk itu. Lalu dia menoleh ke arah tempat aku berdiri.
“Hai Sha, sini”. Ia melambaikan tangannya seolah sudah menungguku sejak lama.
“Ku pikir kamu enggak ada di sini”.
“Aku bolak balik kesini setiap minggu tapi kamu enggak ada”.
“Segitu pengennya ditraktir cokelat panas”.
“Sekarang cuacanya panas Sha, mana mau aku minum cokelat panas”.
“Lalu?”
“Cuma ingin ketemu kamu”.
“Kenapa?”
“Enggak tahu kenapa Sha".
Ada rasa yang menelusuk di inti jantungku, entah perasaan apa itu yang jelas bukan jenis perasaan yang kurasakan saat mengobrol dengan keluargaku atau teman-temanku. Berbeda, aneh saja pokoknya.
“Aku mau pergi Sha”.
“Ke Neptunus?”
“Bukan”.
“Lantas?”
“Aku mau pergi kuliah ke Jogja”.
“Jadi?”
“Minta kontakmu. Biar nanti kalau aku rindu, aku bisa telfon kamu. Bandung-Jogja itu lumayan jauh Sha, aku enggak bisa kalau tiap rindu harus pulang ke sini”. Entah mengapa, aku sedih mendengar Za akan pergi ke Jogja. “Aku di sana belajar Sha, jangan khawatir”. Lalu aku hanya menjawab, “Iya Za” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku tidak pergi mengantarnya ke stasiun kereta api saat akan pergi ke Jogja, ku pikir kami tidak sedekat itu. Terlebih lagi, dia tidak memintaku untuk melakukan itu. Kami hanya sempat mengobrol melalui video call sesaat sebelum keberangkatannya, dia bilang “Tunggu aku pulang Sha. Akan ku kirimkan seribu senja dari Jogja untukmu tiap sore”.
4 tahun berlalu, 2018.
Aku sekarang sedang menempuh pendidikan disalah satu kampus yang ada di Bandung. Dua tahun terakhir, tak ada kontak antara aku dengan Za. Entah apa yang mendasari hal itu, aku sudah tidak bisa menghubunginya. Tapi masih saja menunggunya. “Trrriiingg”. Handphone ku berdering, ada satu pesan yang masuk lalu ku baca pesan itu dengan seksama, “Za?”
Di dalam pesan itu dia meminta ku untuk menemuinya dikafe tempat pertama kali kami bertemu. Anehnya, tempat ini tidak berubah sama sekali karena aku pun sudah tidak pernah lagi mengunjungi tempat ini karena berbagai alasan salah satunya karena takut ingat dengan Za. Aku duduk di kursi tepat di sebelahnya sama seperti 4 tahun yang lalu.
“Sha, maaf”. Setelah sekian lama tidak bertemu, itulah kata pertama yang keluar dari mulutnya.
“Karena menghilang selama 2 tahun?”
“Iya”. Ia menundukkan wajahnya ke meja.
“Kenapa? Aku tahu kamu sibuk Za tapi tidak perlu sampai menghilang begitu kan?” aku bertanya padanya, berharap ada penjelasan darinya yang bisa ku terima
“Maaf, Sha”. Kali ini, ia menolehkan wajahnya padaku.
“Sudahlah Za, sudah terjadi yang penting sekarang kamu sudah disini”.
“Maaf, sudah tak pernah mengirimi mu senja lagi tiap sore dan maaf juga kalau ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir Sha”.
“Maksudmu?”
“Maafkan aku tak bisa memenuhi janjiku sama kamu”.
“Lalu untuk apa kamu membuatku menunggu selama ini? Untuk bisa kamu patahkan disaat seperti ini?”
“Aku sungguh minta maaf Sha”. Ia mengucapkan kalimat itu sambil menahan airmata yang sebentar lagi keluar dari pelupuk matanya.
Hari itu berlalu begitu saja tapi lukanya masih saja terasa sampai detik ini. Makhluk yang datang dari Neptunus itu, ah tak bisa lagi ku jelaskan tentangnya. Aku tidak tahu alasan pasti mengapa ia memutuskan untuk pergi, dia hanya terus-terusan meminta maaf lalu menghilang bagai ditelan bumi.



-TAMAT-



0 comments:

Post a Comment